Menu

Polisi Tegaskan Zul 'Zivillia' Bandar Narkoba, Berikut Penjelasan Efek Narkoba Yang Di Jualnya

TIM BERKAS 36 9 Mar 2019, 00:54
Zul 'Zivillia' tertunduk saat polisi meringkusnya terkait kasus Narkoba yang menjeratnya. (foto. Detik)
Zul 'Zivillia' tertunduk saat polisi meringkusnya terkait kasus Narkoba yang menjeratnya. (foto. Detik)

RIAU24.COM - Ditangkapnya Zul ' Zivillia' oleh kepolisian terkait kepemilikan narkoba jenis sabu dan ekstasi, di salah satu apartemen kawasan Jakarta Utara, pada 28 Februari 2019. 

Pihak kepolisian menyebutkan selain jadi pengguna, ternyata Zul juga menjadi pengedar narkoba. Hal itu dilihat dari jumlah barang bukti yang diamankan sebanyak 9,54 Kilogram sabu dan 24 Ribu butir ekstasi.

Menurut penjelasan dr Hari Nugroho peneliti dari Institute of Mental Health Addiction and Neurosience (IMAN), ekstasi umumnya diedarkan dengan bentuk tablet yang diberikan logo bermacam-macam. Ekstasi sebenarnya adalah salah satu narkoba yang sering disalahgunakan selain sabu.

Menurutnya Kadar methylenedioxy methamphetamine (MDMA)-nya pun beragam, bisa mencapai 225 mg.

"Kebanyakan tablet makenya ditelan, biasa digigit-gigit dulu sih. Ada juga yang serbuk, tapi banyakan mah tablet. Orang biasa pake sedikit-sedikit dulu misal 1/4 tablet dulu atau 1/2 tablet, tapi buat yang udah biasa sekali neken (nelen) ada yang sampai 2 tablet," jelas dr Hari dilansir dari laman Detik.com.

Dijelaskannya ketika seseorang yang tidak terbiasa dan ternyata menenggak tablet dengan kadar MDMA yang tinggi maka overdosis pun bisa terjadi. 

"Ketika seseorang kecanduan, konsumsi tablet ekstasi ini bisa semakin bertambah, bahkan bisa over dosis," sebutnya.

Dikutip dari ecstasy.ws, ekstasi membuat perasaan euforia, peningkatan sensitivitas pada sentuhan, suara dan warna, bersama dengan peningkatan energi. 

Beberapa orang mungkin mengalami halusinasi ringan saat sedang mengonsumsi obat. 

Banyak pengguna ekstasi mendapat kesan bahwa ekstasi tidak berbahaya, namun faktanya banyak penggunanya yang mengalami reaksi negatif, efek samping, dan bahkan konsekuensi fisik dan psikologis permanen sebagai hasil dari penggunaan ekstasi.

Ada ratusan kematian terkait dengan penggunaan Ekstasi sejak 1980-an ketika obat ini pertama kali diperkenalkan ke pasar narkoba. 

Salah satu risiko akut yang mengintai adalah risiko peningkatan suhu atau hipertemia. 

Ekstasi sebagai bahan kimia bisa menghambat tubuh seseorang untuk mengatur suhu tubuhnya sendiri. 

Ekstasi dapat mencapai titik tertinggi yang dapat menyebabkan heat stroke parah yang mungkin tidak dapat diobati. Kondisi ini dikenal sebagai hipertermia, dan merupakan penyebab utama kematian di antara individu yang meninggal dengan ekstasi dalam sistem mereka.

Sumber : Detik.com