Menu

Mengenal Pasthun Afghanistan, Suku Pejuang Ternama Taliban Yang Hingga Kini Ditakuti Tentara AS

Riko 15 Dec 2019, 14:52
Foto (internet)
Foto (internet)

RIAU24.COM -  Berbagai macam konflik bersenjata yang mendera Afghanistan, membuat salah satu suku ternama di wilayah tersebut mulai angkat senjata. Salah satu suku yang terkenal adalah Pasthun, di mana mereka kemudian membentuk sebuah organisasi bernama Taliban di awal tahun 1990-an sebagai bentuk gerakan nasionalis setempat. 

Uniknya, kelompok ini sempat mendapat dukungan dari Amerika Serikat hingga kemudian berbalik memusuhinya. Melansir dari Boombastis. com 13 Desember 2019 berikut sosok Suku Pasthun yang ditakuti AS. 

Kekuatan besar yang tetap eksis hingga saat ini

Begitu kuatnya dominasi Taliban hingga ini, kelompok tersebut bahkan ditawari menjadi partai politik dan mengikuti pemilihan umum di negara tersebut. Sejak konflik berkecamuk, Taliban menguasai sekitar 70% wilayah Afghanistan pada 1996 hingga kini. “Harus ada gencatan senjata, Taliban akan diakui sebagai partai politik dan proses untuk saling percaya akan terwujud,” kata Presiden Ashraf Ghani yang dikutip dari BBC.com.

Kelompok mayoritas yang banyak menjadi anggota Taliban

Setelah pasukan Uni Soviet mundur dari Afghanistan, kelompok Taliban mulai berdiri pada tahun 1990-an di wilayah Pakistan Utara. Dilansir dari BBC.com, Gerakan ini awalnya didominasi oleh orang-orang Pashtun dan pengaruhnya mulai terasa pada musim gugur 1994. Tak lama, gerakan Taliban semakin membesar hingga mengundang perhatian AS.

Suku terbesar yang mendiami wilayah Pakistan dan Afghanistan

Suku Pasthun yang banyak mendiami wilayah Pakistan dan Afghanistan, merupakan kelompok mayoritas di tengah keragaman suku yang ada di kota Quetta dan Kabul. Dilansir dari Roadjunky.com, mereka digambarkan sebagai orang-orang gunung yang sangat tangguh dan tetap hidup dengan memelihara budaya tradisional mereka, Pasthunwali.

Jenderal AS mengakui betapa sulitnya mengalahkan Taliban

Menurut perhitungan Institut Watson Universitas Brown yang dipublikasikan oleh kantor berita Turki Anadolu, pemerintah AS akan menghabiskan uang sebanyak 6 triliun dolar AS atau sekitar Rp88.000 triliun untuk membiayai perang mereka di Afghanistan. “Konflik di Afghanistan tak bisa dimenangkan secara militer. Hanya bisa diselesaikan dengan solusi politik,” ucap komandan operasi NATO “Resolute Support”, Jenderal Austin Scott Miller.

Terlibat perang berkepanjangan dengan pasukan AS

Peristiwa serangan di World Trade Centre, New York September 2001, membuat AS murka dan menyalahkan Taliban karena dianggap memberi perlindungan kepada Osama Bin laden dan Gerakan Al Qaida. Segera saja, operasi militer digelar untuk menggempur Taliban mulai tanggal 7 Oktober 2001 hingga saat ini. Alhasil, Perang berkepanjangan antara pihak AS melawan Taliban selama 19 tahun itu membuat militer negeri Paman Sam mulai kelelahan.

Tak seperti ISIS yang banyak didominasi pejuang asing yang datang ke Suriah, anggota Taliban banyak diisi oleh orang-orang dari suku Pasthun yang sedari awal memang merupakan mayoritas di Afghanistan. Tak heran jika AS merasa kewalahan dalam menghadapi kelompok yang satu ini. Kekuasaan mereka pun tetap berlanjut hingga kini.