riau24

Ini Tulisan Ustaz Arifin Ilham yang Masih Dirawat di Penang, tentang Oase Hati dan Kematian

Minggu, 13 Januari 2019 | 00:07 WIB
Ustaz Arifin Ilham saat akan diberangkatkan menuju Penang, Malaysia, untuk menjalani perawatan. Foto: int Ustaz Arifin Ilham saat akan diberangkatkan menuju Penang, Malaysia, untuk menjalani perawatan. Foto: int

RIAU24.COM -  Hingga saat ini, ustaz Arifin Ilham masih menjalani perawatan di salah satu rumah sakit di Penang, Malaysia. Meski harus menjalani perawatan, pimpinan majelis zikir Az Zikra ini masih menyempatkan diri membuat sebuah tulisan. Isinya, tentang oase hati dan kematian.

Tulisan itu diunggahnya dalam akun Facebook-nya, yang terpantau Sabtu 12 Januari 2019 malam ini.

Dalam tulisannya, ustaz Arifin Ilham mengawali cerita soal manusia yang berasal dari tanah. Selanjutnya, manusia akan kembali ke tanah, kembali menghadap Sang Khalik.



BACA JUGA : Setelah Memangsa Orang, Buaya Raksasa Ini Mati, Ternyata Ini Penyebabnya...

Dituliskannya, kematian selalu mengingatkannya untuk terus menerus memohon ampunan Nya. Kematian juga membuat dirinya semangat beribadah karena tahu kehidupan di dunia ini fana, hanya sementara.

Ustaz Arifin Ilham juga bicara soal kecintaannya terhadap keluarga hingga warga negara Indonesia. Dia berharap bangsa ini selalu damai dan penuh berkah Allah. ***

R24/wan




BACA JUGA : Aturan Bagasi Berbayar Buat Heboh Bandara Ketapang, Penumpang Wings Air Mengamuk Sambil Bawa Parang

Berikut tulisan lengkap yang diunggah ustaz Arifin Ilham:

Assalaamualaikum warahmatullahi wabarkaatuhu.
Siapa aku? Ya, aku dari tiada, sekarang ada, itu juga hanya sebentar, kembali lagi tiada. Aku berasal dari ayah ibu, kakek nenek, terus ke atas hingga mendarat di Datuk manusia, Nabi Adam dan Bunda Hawa. Ujung-ujungnya kita harus menyebut kita adalah bani Adam, keturunan Adam 'alaihis salam. Sementara bahan dasar moyang kita itu dari tanah, sekarang di atas tanah, semua yang kulihat dari tanah, tidak lama lagi aku pun masuk ke dalam tanah. Ya, aku yang selalu apik merawat tubuh ini, ternyata calon bangkai yang berkalang tanah. Aku akan masuk ruang sunyi senyap berbantal tanah, kepala utara, kaki selatan miring ke kiblat. Belatung, cacing, bau busuk menyerengai dalam daging tulang yang selalu kurawat saat hidup. Harapan kita tentu Allah menjadikan kuburan kita, Taman Surga-Nya. Aamiin.

Astaghfirullah, inilah yang membuat aku terus-menerus memohon ampunan-Nya. Inilah yang membuatku semangat dalam beribadah, bernikmat dalam shalat, bahagia berlama-lama sujud di penghujung malam, menangis, dan menyelimuti diri dengan rasa takut akan murka dan azab-Nya. Allahu Akbar, inilah yang membuat gelora asa terpatri kuat dalam memburu ridha dan Syurga-Nya; inilah yang mendesakkan rasa rindu berjumpa dg-Nya. Inilah energi amal sholehku, dakwahku.

Inilah yang menjadi asbab bersemangat dalam mencari rejeki yang halal, kuat bestari dalam beramal silaturahim, sayang pada keluarga, sayang pada semua apalagi pada yang papa lebih-lebih pada saudara-saudara yang tertindas. Merenungi siapa aku, menjadikan diri ini disibukkan dg perbaikan diri, dan sama sekali tidak tertarik mencari aib orang lain, aib diri saja seabrek abrek. Lunglai sudah jika teringat akan siapa diri ini. Tertatih jasad ini dalam mengimbangi gelora ruh dan hati yang terus berjibaku menuju-Nya. Terluap "khouf" rasa takut hebat kpd-Nya dan "rojaa" berharap sangat kpdNya. Bergelayut sedih berbaur bahagia. Putaran waktu di dunia ini terlalu sebentar untuk mengumpulkan bekal hidup selama-lamanya. Sebentar, tetapi menentukan keadaan di Akhirat kelak. Dunia bukan untuk main-main apalagi maksiat. Umurku tidak sepanjang perjuanganku. Sementara dosaku banyak, ilmuku kurang, keadaan inilah membuat waktu hidup ini terasa semakin sebentar.

Duhai kalian, Abah yang telah berpulang, Mama, anak-anakku, istri-istriku, anak-anak yatimku, anak-anak santriku, keluargaku, guru-guruku, para sahabatku, jamaah zikir, juga kalian sahabat FB-ku, instagram-ku, saudara-sauadaraku di Palestina, Afghan, Irak, Suriah, Yaman, Mesir, Afrika Tengah, Ughur China, Khasmir, Rohingya, Patani, Moro dan seluruh umat, juga negeri Indonesia tercinta ini, telah masuk merenggut hati dan pikiranku. Diri ini, demi Allah, sayang semua, cinta semua karena Allah. Rasanya tidak disebut doa, kecuali kalian semua bagian doaku. Aku ingin semua damai dalam naungan Syariat-Nya dan hidup bahagia dalam Sunnah Nabi-Nya, sehingga negeri tercinta kita Indonesia hidup damai aman dalam penuh berkah Allah.

"Allahumma ya Allah ampunilah diri ini, dan semua kami. Selamatkanlah kami dari semua fitnah dunia dan kezholiman, dan terimalah mereka yg wafat sebagai syuhada disisiMu...

SubhanAllah air mata ini terus mengalir dalam oase hati ini krn sayangnya abang pada antum semua krn Allah. ***

Sumber: detik.com/facebook.

PenulisR24/wan


Loading...

loading...

Terpopuler