riau24

Ratusan Guru PAUD di Siak Gelar Aksi Gerakan Seribu Rupiah

Rabu, 09 Januari 2019 | 16:28 WIB
Ratusan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se Kabupaten Siak menggelar aksi Gerakan Seribu Rupiah (Gasebu) /lin Ratusan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se Kabupaten Siak menggelar aksi Gerakan Seribu Rupiah (Gasebu) /lin

RIAU24.COM -  SIAK - Ratusan guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) se Kabupaten Siak menggelar aksi Gerakan Seribu Rupiah (Gasebu) di aula kantor Camat Mempura, Rabu (09/01/2019). Aksi seribu rupiah tersebut untuk membantu memperjuangkan kesetaraan hak guru PAUD di Mahkamah Konstitusi dengan kuasa hukum Yusril Ihza Mahendra.

Menurut Ketua Himpaudi Kabupaten Siak Walini, aksi gasebu tersebut dilakukan se Indonesia, ia berharap dengan gerakan itu kesetaraan hak guru PAUD bisa terlaksana.
 
PAUD yang tergabung dalam Himpunan Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI) mengharapkan agar pada saatnya nanti dalam bidang kesejahteraan ada kesetaraan antara guru PAUD dengan guru lainnya.
 
“Mudah-mudahan melalui gerakan ini hak kesetaraan kita sebagai guru diakui” ucapnya yang disambut ucapan amin oleh ratusan guru paud yang hadir.
 
Dijelaskan Walini pihaknya (Himpaudi kabupaten dan Himpaudi kecamatan) rutin tiga bulan sekali melakukan kegiatan kumpul bersama, dengan biaya swadaya dari guru-guru paud sendiri. Dan yang lebih menariknya lagi para guru paud membawa bekal/makanan ringan hingga makan siang masing-masing.
 
“Kenapa pakai uang seribu, alasannya biar guru paud non formal se Indonesia ikut merasakan perjuangan bersama-sama” terangnya.
 
Tidak tertutup kemungkinan lajutnya, guru-guru paud se Kabupaten Siak bisa menyumbang lebih dari seribu rupiah.
 
Di lain pihak salah seorang tenaga pendidik Retta Nacita (28) yang akrab disapa Eta menyampaikan harapannya hanya ingin diakui sebagai guru yang tertuang didalam Undang-Undang  dan kesejahteraannya disamakan dengan guru layaknya.
 
“Kami juga sama-sama mengajar anak bangsa tanpa memilih anak tersebut dari golongan kaya atau miskin, karena kami bekerja dengan sepenuh hati” ujar Eta pengajar di Paud Terpadu Dayang Suri itu.
 
Kata Eta, meskipun telah sama-sama diakui sebagai pendidik oleh Undang-Undang Sisdiknas, ternyata yang diakui sebagai guru oleh Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen hanya pendidik PAUD formal saja, sedangkan pendidik PAUD non formal tidak diakui sebagai guru.(***)

 

R24/phi
    

 

PenulisR24/lin


Loading...

loading...